Dibalik kesuksesan moodle sebagai e learning di dunia

moodleDalam sehari Moodle di-download ribuan kali dari berbagai penjuru dunia. Hingga saat ini tercatat Moodle telah di-download ratusan ribu kali. Itu artinya bila kita berasumsi 40% saja yang berhasil diimplementasikan, saat ini sudah ada puluhan ribu situs e-Learning berbasis Moodle yang dimanfaatkan untuk pelatihan maupun pendidikan (formal dan nonformal).

Kita tahu bahwa sebenarnya Moodle bukanlah pemain pertama dalam LMS. Sudah lumayan banyak LMS yang telah eksis sebelum kemunculannya. Berdasarkan data dari EduTools saat ini tercatat sudah puluhan LMS yang eksis dengan berbagai platform. LMS berbasis proprietary tercatat ada ANGEL LMS juga BlackBoard. LMS berbasis open source tercatat ada Moodle, Sakai, Claroline, ATutor, Dokeos, dll.

Dengan melihat apa yang sudah dicapai Moodle saat ini, wajar rasanya bila kita ingin mengetahui siapa ‘arsitek’ Moodle . Siapa gerangan yang memiliki ide cemerlang ini. Dialah Dr. Martin Dougiamas. Martin merupakan seorang doktor berlatar belakang pendidikan dengan kemampuan ilmu komputer yang sangat bagus.

“My strong beliefs in the unrealised possibilities of Internet-based education led me to complete a Masters and then a PhD in Education, combining my former career in Computer Science with newly constructed knowledge about the nature of learning and collaboration. In particular, I am particularly influenced by the epistemology of social constructionism – which not only treats learning as a social activity, but focusses attention on the learning that occurs while actively constructing artifacts (such as texts) for others to see or use.” – Martin Dougiamas

Filosofi pembelajaran yang diadopsi Martin dalam LMS-nya ini adalah Social Constructionist Pedagogi. Ada empat konsep utama di belakang istilah pedagogi tersebut, yaitu Constructivism, Constructionism, Social Constructivism, dan Connected & Separate.

Selain memiliki situs resmi untuk komunitas, yaitu moodle.org, Moodle juga memiliki situs resmi untuk layanan jasa, yaitu moodle.com. Situs resmi komunitas digunakan untuk membangun komunitas dan maintain perkembangan sistem dari segi teknis. Sementara situs layanan jasa digunakan untuk menggaet kustomer. Layanan yang diberikan Moodle diantaranya adalah penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi, dll.

Paradigma berorientasi layanan yang digunakan Moodle akan semakin memantapkan langkah LMS ini untuk menjadi pemain utama. Dengan paradigma ini, pengguna dapat dengan leluasa melakukan pengaturan atas fasilitas yang ada dalam mendukung proses belajar mengajarnya. Tercatat saat ini sudah ada banyak modul dalam Moodle di antaranya assignment, chat, choice, data, forum, glossary, journal, label, LAMS, lesson, quiz, resource, SCORM, survey, wiki, workshop, dll. Belum lagi ‘plugins’ buatan non-core developer-nya yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Saat ini tinggal kemauan masyarakat kita dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia ini untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di Indonesia sendiri sudah banyak individu maupun institusi yang memanfaatkan Moodle.

Comments are closed.

Read previous post:
Fenomena google plus

Google+ (Plus) atau Google Plus adalah jejaring sosial yang dibuat oleh Google. Layanan gratis menawarkan sejumlah fitur menarik dan disebut-sebut

Close